- Hujan menjejakan nada. Gemericik di satu dua titik.
Akan ada saatnya bebasah di pinggir jalan menjelma panggung bagi diri
yang paling sepi.
- Dan pada suatu malam yang hujan, rindu menetes dari pikiran. Tetesnya deras, sederas aku melenyapkanmu dari pikiranku.
- Lalu rinduku tergenang. Sisa-sisa hujan semalam.
- Namun aku cukup senang, kamu slalu menemaniku walau hanya diam mendiami bayang-bayang di benakku.
- Serupa tetes hujan yang menghinggapi jendela kamarku. Ah, aku jadi ingat ketika kita berbagi teduh dalam satu payung dengan canda tawa.
- Baju ku basah begitupun kamu, pipiku basah namun tidak dengan mu. Aku memikirkan kita. Yaa kita! Sampai kapan kita bisa bertahan dan menjaga rasa yang sama di antara keyakinan yang berbeda.
- Selamat datang air mata, terjatuhlah. Sudah lama aku tidak melihatmu menari riang di pipiku. "Kamu senang meliuk-liuk disana?" | Aku tidak.
- Ada yang hendak diceritakan hujan ketika singgah di permukaan pipiku. Tentang seseorang yang sedang berdansa di kepalaku.
- Mungkin ini rindu. Dan bagiku, rindu serupa fatamorgana; Membias, terasa, namun tak teraba.
- Aku pun benci menyebut rindu. Jika hanya mengingatmu, harus berjibaku dengan sendu.
- Namun kadang aku ingin seperti debu; kau tiup dan kau usap. Setidaknya kau perhatikan.
- Sudahlah, aku muak, sesak. biar aku menyeruak lompat keluar lingkar rindu yang menyergapku.
- Lebih baik aku menjodohkan hati dengan sepi; agar setelah mereka bercinta, lahirlah sebuah karya.
- Aku jadi ingat, seperti sama kutub yang tak pernah bisa satu. Harus beda agar sejalan, wajar tak sama agar bersama.
- Lalu mengapa mengapa ragamu tak tergapai? Apakah sedemikian sulit? Serupa laut yang tak pernah sanggup mengecup langit.
- Jika aku sudah tidak menyamankanmu, nyamankanlah aku. Jika tak lagi ada kenyamanan, nyamankanlah dengan perpisahan.
- Aku cukup bahagia kita berkencan hanya dengan aku memejam. Sesiapapun, jangan pernah bangunkan aku walau air mata ku telah menghujani pipiku.
- Karena kita adalah sepasang kekasih dalam sebuah mimpi. Takkan terpisah walau dengan mati. Kecuali datangnya sang pagi.
- Biar aku beranjak - membungkam sunyi senyap - membunuh rindu
- Aku tahu cinta itu bulat. Benci dan bahagia berputar tanpa sekat.
- Kini aku menjamu sepi dengan senyum. Memintal pedih tanpa letih. Karena aku tak ingin malaikat merunduk menepuk pundakku dan bersedih.
- Semoga saja dekapanku tidak terlalu erat; agar kau tidak menjerit, pergi, dan buat aku sekarat.
- Cinta adalah bukan aku yang meminta, melainkan pertemuan dua ruang retak sisa luka.
- Lalu bagaimana dengan perpisahan? | Pertemuan maupun perpisahan, merupakan sebuah ketentuan yang telah ditentukan.
- Ya, jika aku adalah kekurangan; maka kitalah kesempurnaan.
- Mungkin aku hanya belum terbiasa menjauhkanmu dari keruh pikiranku.
- Karena yang aku tahu. Ketika kamu pergi, kamu masih setia bertahan di diri ini.