Sabtu, 02 April 2011

SEGARIS BARIS KATA







  • Selamat datang air mata, terjatuhlah. Sudah lama aku tidak melihatmu menari riang di pipiku.  "Kamu senang meliuk-liuk disana?" | Aku tidak.
     

  • Ada yang hendak diceritakan hujan ketika singgah di permukaan pipiku. Tentang seseorang yang sedang berdansa di kepalaku. 


  • Mungkin ini rindu. Dan bagiku, rindu serupa fatamorgana; Membias, terasa, namun tak teraba.


  • Aku pun benci menyebut rindu. Jika hanya mengingatmu, harus berjibaku dengan sendu. 


  • Namun kadang aku ingin seperti debu; kau tiup dan kau usap. Setidaknya kau perhatikan.


  • Sudahlah, aku muak, sesak. biar aku menyeruak lompat keluar lingkar rindu yang menyergapku.


  • Lebih baik aku menjodohkan hati dengan sepi; agar setelah mereka bercinta, lahirlah sebuah karya.


  • Aku jadi ingat, seperti sama kutub yang tak pernah bisa satu. Harus beda agar sejalan, wajar tak sama agar bersama.




  • Lalu mengapa mengapa ragamu tak tergapai? Apakah sedemikian sulit? Serupa laut yang tak pernah sanggup mengecup langit.




  • Jika aku sudah tidak menyamankanmu, nyamankanlah aku. Jika tak lagi ada kenyamanan, nyamankanlah dengan perpisahan.




  • Aku cukup bahagia kita berkencan hanya dengan aku memejam. Sesiapapun, jangan pernah bangunkan aku walau air mata ku telah menghujani pipiku.



  • Karena kita adalah sepasang kekasih dalam sebuah mimpi. Takkan terpisah walau dengan mati. Kecuali datangnya sang pagi.



  • Biar aku beranjak - membungkam sunyi senyap - membunuh rindu



  • Aku tahu cinta itu bulat. Benci dan bahagia berputar tanpa sekat.



  • Kini aku menjamu sepi dengan senyum. Memintal pedih tanpa letih. Karena aku tak ingin malaikat merunduk menepuk pundakku dan bersedih.




  • Semoga saja dekapanku tidak terlalu erat; agar kau tidak menjerit, pergi, dan buat aku sekarat.



















1 komentar:

Anonim mengatakan...

kereeeeennn bangeeett